Monday, March 16, 2009

SEMARANGAN

Ibu 17 Tahun Lahirkan Bayi Kembar Tiga

SULISTIYANINGSIH Fatmawati, 17 tahun, warga RT 9 RW 1, Desa Kebonsari, Kecamatan Dempet, Demak, baru saja melahirkan bayi kembar tiga di RSUD Sunan Kalijaga.
Kemarin, perempuan yang intim disapa Sulis ini masih tampak berbaring lemas di ruang Melati Rumah Sakit Daerah (RSD) Sunan Kalijaga, Demak. Kendati masih lemas, namun Sulis tampak sehat, meski baru saja melahirkan bayi kembar tiga.
Sulis mengaku tak menyangka sa­ma sekali dirinya yang baru me­nikah pada Oktober 2008 lalu de­ngan Abdul Rohim,
22, warga De­sa Megonten, Kecamatan Kebon­agung, dikaruniai bayi tiga sekaligus.
“Ya, tidak menyangka saja, kali pertama melahirkan langsung tiga anak perempuan semua,” ujar perempuan kelahiran 10 September 1992 itu.
Ketiga buah hatinya lahir prematur, baru berusia 7 bulan di kandungan.
Saat dilahirkan, masing-masing berbobot 1 kilo 2 ons, 1 kilo 1 ons, dan 1 kilo 2 ons. Ketiganya diberi nama masing-masing Nuria Maulida, Nayla Maulida dan Nabila Maulida.
Nama belakang Maulida di ketiga bayinya, tutur Sulis, karena dilahirkan bertepatan dengan bulan Maulid yang diperingati sebagai hari lahirnya Nabi Muhammad SAW.
Ia berharap anak-anaknya yang hingga kemarin masih dirawat di inkubator ruang Bougenville memiliki sifat kebaikan seperti diajarkan Nabi.
“Saya melahirkan pada Kamis (12/3) pukul 10.00 setelah dibawa ke rumah sakit pukul 08.00. Saat melahirkan lancar saja tanpa ada bantuan alat atau dioperasi. Anak-anak keluar per tiga menit sekali,” terangnya didampingi ibu kandung dan ibu mertuanya Kasmi, 52, dan, Ismayati, 49, kemarin.
Sulis mengaku tak punya firasat akan melahirkan bayi kembar tiga sekaligus. Ia hanya memperkirakan bayinya kembar tiga. Ini sesuai keterangan dokter kandungan saat Sulis di-USG.
“Saya sempat terkejut karena ternyata kembar tiga. Padahal saat di USG hanya diketahui kembar dua. Tapi saya senang dan bahagia karena ketiganya selamat semua,” kata Sulis. Dari sisi garis keluarga ibu, bibinya bernama Sudarwati pernah melahirkan bayi kembar dua. “Mungkin keturunan juga ya,” katanya setengah bertanya.
Sejak mengandung, Sulis hanya memeriksakan kesehatannya di bidan desa Dwi Atmiarsih sebanyak 5 kali. “Alhamdulillah selalu sehat,”imbuh Sulis. Meski telah melahirkan tiga anak sekaligus, Sulis tetap berkeinginan untuk memiliki anak lagi nantinya. “Anak laki-laki kan belum. Ini kan baru perempuan semua,” katanya sembari tersenyum.
Hingga kemarin ketiga anak Sulis yang dibantu dengan alat inkubator masih banyak diamnya. Bayi-bayi tersebut 

Banjir Rendam 9 Kecamatan
SEMARANG—Banjir besar kembali me­rendam Kota Semarang, Minggu (8/2) kemarin. Guyuran hujan deras sepanjang Sabtu (7/2) sore hingga Minggu (8/2) siang menyebabkan sejumlah sungai meluap.
Di antaranya Sungai Bodri di perbatasan Kendal-Semarang, Kali Beringin di Mangkang Tugu, dan Sungai Banjir Kanal Barat di Semarang Barat. Juga Sungai Banjir Kanal Timur di Gayamsari, Semarang Selatan dan Semarang Timur.
Air sungai itu merupakan kiriman dari wilayah Boja yang mengalir ke Sungai Bodri, Kali Beringin, dan Sungai Banjir Kanal Barat. Air selanjutnya masuk ke wilayah Mangkang dan Semarang Barat.
Sedangkan banjir di wilayah Gayamsari, Semarang Timur dan Semarang Selatan merupakan air kiriman dari wilayah Ungaran yang kemudian mengalir ke Sungai Banjir Kanal Timur. Praktis, meluapnya air sungai dan tingginya intensitas hujan membuat Pantura Semarang makin kritis.
Berdasarkan data Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas Kota Semarang), sejumlah titik kelurahan di Kota Lunpia terendam banjir. Air memasuki puluhan ribu rumah.
Terparah, di Muktiharjo Lor, Kecamatan Genuk; Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan; Kaligawe, Sawah Besar dan Tambakrejo Kecamatan Gayamsari; Jalan Manggis Kelurahan Lamper Lor dan Pandean Lamper IV Peterongan, Kecamatan Semarang Selatan.
Juga di Kuningan, Dadapsari, Purwosari, Panggung Lor, Panggung Kidul, dan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara; di Mangkang Kulon, Mangkang Wetan, dan Mangunharjo, Kecamatan Tugu. Serta di Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan.
Banjir tersebut, selain merendam ribuan rumah, banjir juga memutuskan jalur lalulintas Semarang-Jakarta, tepatnya di wilayah Semarang Barat. Yakni, antara Mangkang hingga Kaliwungu, Kabupaten Kendal.
Jalan-jalan protokol juga terendam. Banyak kendaraan yang mesinnya mati mendadak karena nekat menerabas ketinggian air. Rata-rata ketinggian air yang merendam sejumlah titik banjir tersebut antara 60 centimeter hingga 1,5 meter.
Akibatnya, kendaraan yang berasal dari arah Jakarta menuju Semarang atau sebaliknya dari Semarang ke arah Jakarta, banyak yang terjebak, dan tidak bisa melanjutkan perjalanan.
Antrean kendaraan mencapai antara 8 hingga 10 kilometer. Itu terjadi setelah air bah merendam badan jalan dengan ketinggian antara 20 centimeter hingga 60 centimeter.
Air yang melimpas ke jalan raya juga mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Ahmad Yani. Bandara ditutup sementara karena landasan pacu (runway) sepanjang 500 meter tergenang air setinggi 20 centimeter.
Banjir juga merendam Stasiun Tawang sehingga mengganggu keberangkatan kereta api. Tak hanya itu. Pelabuhan Tanjung Emas ikut kebanjiran. Ketinggian air di Tanjung Emas mencapai 1,5 meter serta 1 meter di daerah Tanah Mas.
Hal itu terjadi karena air sungai serta air laut menumpuk menjadi satu, sehingga ketinggian air terus meningkat drastis. Salah seorang warga RT 2 RW 12, Jalan Selomas, Kelurahan Panggung Lor, Semarang Utara, Saptono, menuturkan, banjir di wilayahnya sudah menjadi langganan.
Namun baru kali ini airnya cukup tinggi. Menurut Saptono, banjir karena banyak mesin penyedot air rusak dan tidak berfungsi. Padahal, hujan sangat deras.
“Karena banjir, kita tidak bisa ke mana-mana. Kita terjebak banjir sehingga terpaksa tidur di rumah lantai 2. Sebab, lantai 1 rumah kita terendam air,” katanya, kemarin.
Sementara akibat banjir yang terjadi itu, ribuan warga terpaksa mengungsi ke tempat tempat aman. Setidaknya ada sekitar 5 ribu kepala keluarga (KK) yang mengungsi.
Bagi warga Tambakan, Kaligawe dan sekitarnya, mereka di antaranya diungsikan ke rumah susun Kaligawe. Sementara korban banjir lainnya dievakuasi ke sejumlah sekolah, balai kelurahan, serta posko yang didirikan Bakesbanglinmas Pemkot Semarang. Juga beberapa instansi terkait lainnya.
Kepala Teknis Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Alam Bakesbanglinmas Kota Semarang Ir Prasetyo menuturkan, posko bencana didirikan di Kecamatan Genuk, Tembalang, Banyumanik, Semarang Barat, Semarang Utara, Tugu serta di Semarang Selatan.
Posko dilengkapi fasilitas dapur umum untuk kebutuhan pengolahan logistik bagi pengungsi. “Kita kerahkan semua kekuatan termasuk dari Tim SAR (Search and Rescue) dibantu aparat kepolisian, TNI dan PMI untuk mengevakuasi korban banjir ini,” ungkap Prasetyo kepada koran ini, kemarin.
Prasetyo bersama Wakil Wali Kota Mahfudz Ali kemarin langsung meluncur ke lokasi banjir. Seperti di Perumahan Kencono Wungu yang berada di kawasan PRPP, Semarang Barat, Tanjung Emas Semarang Timur, serta ke wilayah Mangkang Wetan dan Kulon.
Rombongan tidak bisa masuk ke wilayah yang terakhir tersebut lebih dalam karena ketinggian air cukup tinggi. Karena itu, rombongan terpaksa naik perahu karet.
Menurut dia, untuk mengevakuasi korban banjir, pihaknya kehabisan perahu karet. “Perahu karet yang kita miliki hanya 5 buah dan telah dioperasionalkan ke sejumlah titik banjir termasuk di Mangkang. Kekurangannya dibantu Basarnas sebanyak 3 perahu karet, Kesbanglinmas Provinsi Jateng 3 perahu karet, dan dari Ditpolair 2 perahu karet,” jelasnya.
Siapkan Dana Darurat Rp 800 Juta
Terkait bencana banjir dan tanah longsor ini, Dinas Sosial, Pemuda dan Olah Raga Kota Semarang mulai kemarin pagi mengirimkan bantuan logistik ke sejumlah titik dan sepuluh kecamatan.
Kecamatan yang didrop bantuan logistik tersebut adalah Kecamatan Gayamsari, Pedurungan, Ngaliyan, Tugu, Semarang Utara, Genuk, Semarang Selatan, Semarang Tengah, Semarang Timur dan Semarang Barat.
Bantuan logistik antara lain berupa beras, mi instan, sarden, telur, minyak goreng, kecap, susu untuk anak anak, biskuit serta kain selimut.
Kepala Dinas Sosial Pemkot Semarang, Harini Krisniati, mengatakan, untuk menanggulangi serta membantu korban banjir itu, pihaknya telah menyiapkan dana sebesar Rp 800 juta.
Dana tersebut merupakan dana tanggap darurat bencana. Karena itu pula, sejak pagi kemarin, tim Dinsos mulai memasok bantuan logistik ke beberapa kecamatan tersebut.
“Sembari menyiapkan dapur umum, untuk sementara kita kirim nasi bungkus untuk mencukupi kebutuhan makan pengungsi. Sebab, pertama kali bantuan yang dibutuhkan adalah makanan siap saji itu,”terangnya kepada koran ini, kemarin.
Bantuan diperuntukkan bagi mereka yang telah dievakuasi di tempat pengungsian dan menginap. “Jadi, kita belum bisa memprediksi surutnya air banjir itu. Sehingga kita tetap mengirimkan bantuan yang dibutuhkan para pengungsi,”ujarnya.
Menurut Harini, bantuan yang dikirim juga datang dari berbagai pihak, termasuk dari Dinkesos Provinsi Jateng, serta intansi lain dan juga para pengusaha yang peduli banjir.
“Bagaimanapun ini banjir terbesar di musim penghujan ini.” Meski bantuan telah dikirimkan, beberapa RT di Kelurahan Tawangmas dan Tawangsari, Semarang Barat hingga kemarin dilaporkan kekurangan persediaan sembako.
Sebab, 1 RT hanya dapat pasokan mi instan 1 dus serta 40 kilogram beras. Padahal, 1 RT terdapat antara 60 hingga 70 warga. “Kita berharap bantuan dapat dipasok lagi,”kata Tohani, Sekcam Semarang Barat.
Gubernur Minta Masyarakat Tak Panik
Terpisah, Gubernur Bibit Waluyo meminta masyarakat tidak panik menghadapi musibah banjir yang melanda sebagian wilayah Jateng. Meski begitu, masyarakat juga diharapkan tetap antisipatif terhadap adanya bencana susulan.
Hal tersebut diungkapkan Gubernur Bibit saat meninjau beberapa lokasi banjir di Kabupaten Kendal Minggu (8/2) malam. “Harapan saya, masyarakat tidak usah panik, tapi juga antisipatif menghadapi hujan susulan. Ini cuaca sudah cerah, mudah-mudahan tidak hujan lagi,” ujarnya.
Tadi malam Bibit bersama Sekda Jateng Hadi Prabowo dan sejumlah jajarannya meninjau wilayah Kendal yang terendam banjir. Hingga tadi malam, banjir yang diakibatkan jebolnya tanggul Kali Bulanan dan Kali Damar tersebut masih mengakibatkan arus lalu lintas macet total.
Selain menyerahkan bantuan berupa sembako, pada kesempatan tersebut Bibit juga meminta Pemkab Kendal untuk segera mengavaluasi dan memperbaiki dua tanggul sungai yang jebol.
(radarsemarang.com)



-------------------------------------------

No comments:

Post a Comment